ORASI ILMIAH

STUDI WACANA DALAM PERSPEKTIF LINGUISTIK BUDAYA

(BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)

OLEH

DR. I WAYAN GARA, M.HUM

ORASI ILMIAH DISAMPAIKAN DALAM RANGKA DIES NATALIS KE-30 DAN WISUDA SARJANA KE-21 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN  “AGAMA HINDU” SINGARAJA

RABU, 30 SEPTEMBER 2009

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

“AGAMA HINDU”

SINGARAJA

2009


Yang Terhormat:

Bapak Ketua STKIP “Agama Hindu” Singaraja

Bapak Ketua Senat dan Para Anggota Senat STKIP “Agama Hindu” Singaraja

Bapak Bupati KDH Tk. II Buleleng

Bapak Ketua DPRD Tk. II Buleleng

Bapak Koordinator Kopertis Wilayah VIII Denpasar

Bapak Ketua Yayasan Dana Punia Kabupaten Buleleng

Para Ketua Jurusan dan Program Studi, Staf Pengajar, dan Seluruh Civitas Akademika di Lingkungan STKIP “Agama Hindu” Singaraja

Para Wisudawan

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para undangan/hadirin Sekalian

Om Swastyanstu,

Puji syukur saya panjatkan ke hadapan Tuhan yang Mahaesa karena berkat limpahan rakhmat kasih sayang, kesehatan, dan keselamatan sehingga saya bisa hadir pada hari yang berbahagia ini untuk menyampaikan orasi ilmiah di hadapan hadirin yang saya muliakan. Adapun orasi ilmiah yang saya sampaikan dalam rangka Dies Natalis ke-30 dan Wisuda Sarjana STKIP “Agama Hindu” ke-21 berjudul “Studi Wacana dalam Perspektif Linguistik Budaya (Bentuk, Fungsi, dan Makna)”.

Orasi ilmiah ini disajikan secara singkat dan padat yang pada intinya memuat pokok-pokok pikiran hasil studi yang panjang, luas, dan kompleks. Semoga Tuhan memberkati harapan dan usaha untuk mengembangkan konsep keilmuan linguistik terutama linguistik budaya dalam mengkaji wacana (ritual), baik tekstual maupun kontekstual. Mudah-mudahan materi orasi ilmiah ini berguna untuk memenuhi harapan dan usaha dimaksud serta kemajuan STKIP “Agama Hindu” Singaraja yang kita cintai.

Hadirin yang saya muliakan

1. Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang pesat dewasa ini diakibatkan oleh semakin meningkatnya upaya pemenuhan terhadap berbagai kebutuhan dan tuntutan manusia. Seiring dengan perkembangan iptek dimaksud (termasuk di dalamnya linguistik), para ilmuwan yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing merasa tertantang dan terus berupaya untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dengan melakukan studi, penelitian, kajian, atau kegiatan sejenis lainnya. Kajian linguistik (ilmu bahasa) yang secara garis besarnya meliputi: (1) mikrolinguistik, (2) makrolinguistik, dan (3) sejarah linguisik.

Mikrolinguistik terdiri atas: bidang teoretis yang bersifat umum (teori linguistik, linguistik deskriptif, dan linguistik historis komparatif) dan bahasa-bahasa tertentu, yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikologi. Makrolinguistik terdiri atas: bidang interdisipliner (yang antara lain mencakup: sosiolinguistik, psikolinguistik, dan antropolinguistik/linguistik budaya) dan bidang terapan (yang antara lain mencakup: pengajaran bahasa, penterjemahan, dan leksikografi). Sejarah linguistik, yang pertumbuhan dan perkembangannya terkait dengan keberadaan berbagai aliran linguistik dan pewarisannya berpengaruh dalam memunculkan pemahaman terhadap penerapan suatu tata bahasa, seperti: aliran linguistik tradisional, aliran linguistik struktural, dan aliran linguistik generatif transformasi (band. Kridalaksana, 1982: xxxviii-xxxix).

Aliran linguistik tradisional dan pewarisannya diawali dengan pandangan dari para tokoh pendukungnya, antara lain: Plato (427—347 SM [?]), Dyonisius Thrax (Abad I SM), Aristoteles (Abad IV SM), Panini (Abad VI SM), Priscianus (Abad V M), Bulklokar (1917), Sapir (1921), Bloomfiel (1917–1931), Sastrasoegondo (1910), Husain Munaf (1946), Alisjahbana (1949), Fries (1950), C.A. Mees (1950), M. Zain (1952), Madong Lubis (1954), Poedjawijatna dan Zoetnulder (1954), S. Ahmad (1958), Ch. A. van Ophuijsen (1983), J.J de Holander (1984), dan D. Gerth van Wijk (1985). Aliran linguistik struktural didukung oleh para tokoh terkemuka, antara lain: Saussure (1916), Hjelmslev (1934), Slametmulyana (1956), Levi – Straus (1958), dan Barthes (1964). Aliran linguistik Generatif Transformasi didukung oleh para tokoh ternama, antara lain: Noam Chomsky (1965), Halle (1968), Waltham (1970), dan Samsuri (1971, 1985) (Robins, 1995:335; band. Riana, 2003: 3—5; Sutjaja, 2005: 5—7).

Bidang wacana dan linguistik budaya sangat menarik untuk dicermati dan diangkat dalam sebuah studi aspek kebahasaan, baik sebagai objek formal maupun objek materi. Wacana pada mulanya merupakan salah satu bidang linguistik yang berada pada tataran sintaksis, yang secara hirarkhis terdapat unsur-unsur bahasa bawahan yang lebih kecil, seperti: paragraf, kalimat, klausa, dan frase. Akan tetapi kini terjadi pergeseran makna wacana yang meluas dan merambah dalam berbagai aspek (masalah/kasus) kehidupan. Misalnya: wacana iklan, wacana lagu, wacana politik, wacana perselingkuhan, wacana ritual; ada pula sebuah ungkapan yang relatif populer “Wah, itu hanya sebatas wacana”, dan sebagainya. Linguistik budaya merupakam bidang interdisipliner bahasa dan budaya; bahasa sebagai bagian, indeks, dan simbol budaya (Kuper dan Kuper, 1996: 547-548; Whorf, 1979: 207—219; Riana, 2003: 3).

Pembicaraan sehubungan dengan topik studi ini mengarah pada upaya untuk memperoleh dan memberikan pemahaman dalam tataran konsep (teori) serta aplikasi kajian bahasa tertentu (langue) dalam satu-kesatuan sebagai sebuah model studi aspek kebahasaan. Artinya, studi ini yang secara teoretis bisa dimulai dengan pemaparan satu per satu terhadap pokok-pokok pembicaraan bidang wacana dan linguistik budaya dengan ringkas, padat, dan tuntas. Hal tersebut mesti dimengerti bahwa studi wacana dalam sebuah langue mengandung aspek-aspek linguistik budaya, yaitu: bentuk, fungsi, dan makna.

Hadirin yang saya hormati

2. Wacana

Wacana dan teks sebagai realitas bahasa sering dijumpai tidak dibedakan satu sama lain. Hal tersebut tampak pada terminologi wacana dan teks sehubungan dengan pemarkah kohesi dan koherensi yang sama-sama mencakup pengertian tuturan dan tulisan. Beberapa ahli bahasa cenderung menggunakan terminologi wacana, antara lain: Brown dan Yule (1983), Stubbs (1083), Van Dijk (1985), Cook (1990), Tarigan (1987), Lubis (1993), Hoed (1994), dan Sumarlan, dkk. (2004). Realisasi wacana sebagai satuan semantik berada pada tataran langue. Namun demikian, Halliday dan Hasan (1989) menggunakan terminologi teks, yaitu bahasa yang fungsional dalam konteks. Kedua terminologi tersebut digunakan dalam studi ini sebagai acuan dan komparasi konsep. Hanya saja perlu ditegaskan bahwa penggunaan konsep teks dan koteks terasa berkesinambungan ketika pembicaraan merujuk pada realitas bahasa (wacana) tertulis. Demikian pula kerelevanan penggunaannya untuk menandai realitas bahasa yang sedang menjalankan fungsinya dalam konteks situasi yang mencerminkan budaya masyarakatnya.

2.1 Realitas Wacana sebagai Teks

Konsep wacana dekat dengan pengertian discourse yang berasal dari bahasa Latin: discursus ‘lari kian kemari’, yang diturunkan dari dis- ‘dari, dalam arah yang berbeda’ dan currere ‘lari’ (Sumarlan, dkk., 2004: 2-4). Dalam kaitan itu, wacana mengandung pengertian: (1) komunikasi pikiran dengan kata-kata, ungkapan ide-ide atau gagasan, konversasi atau percakapan; (2) komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu objek studi atau pokok telaah; (3) risalah tulis, disertasi formal, kuliah, ceramah, dan khotbah (band. Kridalaksana, 1982: 179; Purwo, 1993: 3—50; Djajasudarma, 1994: 2—5; Hoed, 1994: 133—135).

Wacana merupakan realitas bahasa yang mempunyai fungsi dan makna menurut konteks situasi. Tataran bahasa dimaksud sifatnya terbatas. Artinya, bahasa dalam wujudnya sebagai teks yang berterima dan fungsional dalam konteks tertentu menjadi bagian integral kebudayaan. Misalnya, sebuah realitas wacana ritual keagamaan sebagai teks memiliki konteks situasi tersendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, Malinowsky (1923) menyatakan bahwa realitas bahasa tersebut berfungsi magis. Oleh karena itu, maka difinisi bahasa yang tipikal adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota masyarakat sebagai alat untuk berkomunikasi sesuai dengan pola budayanya dalam rangka upacara keagamaan (Halliday dan Hasan, 1989: 10—24; Kuper dan Kuper, 2000: 547-548; Sibarani, 2004: 35—38).

Realitas wacana seperti tersebut di atas dapat dipandang sebagai satuan semantis dan satuan lingual dalam hierarkhi gramatikal. Wacana sebagai satuan semantis berada pada tingkat langue, yakni abstraksi bahasa sebagai realitas sosial dan budaya. Tataran bahasa tersebut dikenal pula sebagai sistem yang mengatur hubungan antara ujaran dengan lingkungannya dan kerangka acuan tertentu yang sifatnya terbuka. Artinya, realitas wacana sebagai teks mengandung keruntutan, keserasian, dan kepaduan hubungan koteks serta konteks; fungsional dan mempunyai acuan tertentu (band. Halliday dan Hasan, 1976: 293; Van Dijk, 1977: 3). Seiring dengan itu, wacana dinyatakan sebagai realitas komunikasi pikiran merupakan pengejawantahan hubungan bahasa dan budaya, yakni bahasa mencerminkan sistem budaya. Kuper dan Kuper (2000: 547-548) dengan tegas menyebutkan hubungan bahasa dan budaya dalam tiga dimensi: bahasa sebagai bagian budaya, bahasa sebagai indeks budaya, dan bahasa sebagai simbol budaya.

Wacana dalam hierarkhi gramatikal adalah satuan lingual yang berada di atas kalimat berupa rentetan kalimat yang kohesif dan koheren. Hoed (1994: 125—135) menyebutkan bahwa wacana merupakan bangun teoretis yang memperlihatkan hubungan antara satu atau sejumlah proposisi dengan suatu kerangka acuan. Sumarlan (2003: 15) berpendapat bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan, seperti: pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batin (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu. Sehubungan dengan hal tersebut, Eriyanto (2001: 15) memberikan batasan pengertian wacana, yaitu: (1) rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu-kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; (2) kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

Keutuhan wacana (tekstual) dapat dilihat dari segi kohesi dan koherensi. Teks adalah bahasa yang berfungsi; bahasa yang sedang melaksanakan tugas dalam konteks. Semua contoh bahasa hidup (tuturan, tulisan, dan sarana tertentu) yang ambil bagian dalam konteks disebut teks. Jadi, realitas wacana sebagai teks merupakan satuan makna yang dikodekan atau diungkapkan terstruktur dengan kata-kata untuk diungkapkan lagi lalu dikodekan kembali, dan seterusnya, baik berupa tuturan, tulisan, maupun sarana tertentu. Teks yang kohesif ditandai oleh adanya keruntutan dan keserasian hubungan unsur-unsur pendukungnya. Segi teks yang koheren ditandai oleh adanya kepaduan informasi, maksud, dan isi yang terkait dengan lingkungan atau kerangka acuan tertentu. Hal tersebut, yang apabila dikaitkan dengan hakikat bahasa dalam perspektif linguistik budaya yang memiliki bentuk, fungsi, dan makna, maka segi kohesi merupakan aspek bentuk (struktur) bahasa; segi koherensi adalah aspek fungsi dan makna bahasa (band. Tarigan, 1987: 96; Halliday dan Hasan, 1989: 13—15; Alwi,dkk., 1993: 43; Purwo, 1993: 3—50; Hoed, 1994: 133—135).

Ada berbagai istilah atau sebutan yang digunakan dalam analisis wacana sehubungan dengan pemarkah kohesi dan koherensi. Sumarlan dkk. (2004: 283—317) melakukan kajian kohesi wacana tekstual dan wacana kontekstual dengan dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan mikrostruktural (mikrotekstual), yang menitikberatkan pada mekanisme kohesi wacana tekstual untuk mengungkapkan urutan kalimat yang koheren; (2) pendekatan makrostruktural (makrotekstual), yang mempertimbangkan faktor background dan foreground, konteks situasi, faktor sosial kultural, dan budaya yang melingkupinya. Bayardi (2004: 4—5) menyebutkan bahwa analisis wacana meliputi: segi internal dan eksternal wacana. Adapun segi internal wacana terdiri atas: jenis, struktur, dan hubungan bagian-bagiannya. Segi eksternal wacana terdiri atas: pembicara, hal yang dibicarakan, dan mitra bicara. Aminuddin (2002:27) menyebutkan segi eksternal sebagai fenomena ekstralinguistik, yang secara sistemik ikut menentukan kebermaknaan dan pengertian yang tergambar lewat teks sebagai medium wacana. Demikian pula Halliday (1989: 10—14) menegaskan bahwa setiap teks, baik sebagai produk maupun proses (budaya) mempunyai struktur, tekstur, fungsi, dan makna dalam konteks. Adapun konteks sebagai semiotik sosial mempunyai tiga ciri, yaitu: medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana, Eriyanto (2001: 221—281) mengemukakan bahwa analisis wacana mencakup struktur teks dan unsur luar bahasa. Adapun struktur teks terdiri atas: struktur makro (tematik), super sruktur (skematik), dan struktur mikro (kata, kalimat, dan gaya bahasa). Unsur luar bahasa meliputi: kognisi sosial dan konteks (band. Lyon, 1970: 143; Brown dan Yule, 1983: 23—25; Van Dijk, 1985: 115—133).

Piranti kohesi dan koherensi merupakan syarat dalam analisis wacana. Dalam kenyaataannya, ada wacana yang kohesif, tetapi tidak koheren. Ada pula wacana yang tidak kohesif, namun koheren. Akan tetapi, wacana yang baik dan ideal adalah wacana yang kohesif dan koheren. Kebermaknaan wacana tergantung pada keruntutan dan keserasian hubungan antarbagian (proposisi-proposisi) yang ditandai dengan upaya atau penggunaan alat-alat kohesi tertentu. Rani, dkk. (2004: 91—141) menyebutkan bahwa ada beberapa cara untuk menandai koherensi, yaitu: (1) kohesi, yang terdiri atas: komponen (identitas dan kemiripan), struktural (tema – rema dan informasi), dan organik (konyugasi); (2) relevansi, yang berupa register, yang meliputi: bidang, pelibat, dan sarana; (3) faktor luar teks, yang berupa pengetahuan budaya, yang tercipta dengan menggunakan referensi.

Beberapa bagian penting segi kohesi dalam menciptakan koherensi, antara lain tampak pada bentuk teks yang mempunyai hubungan parataksis dan hipotaksis. Hubungan parataksis, yaitu penataan koordinatif-subordinatif. Hubungan hipotaksis adalah penataan             kondisional – penambahan/kelanjutan (Halliday dan Hasan, 1989: 21). Djajasudarma (1994: 46—50) menyebutkan bahwa koherensi wacana dapat dipahami melalui interpretasi analogi, lokal (ruang dan waktu), atau inferensi. Sebuah wacana dapat dikatakan kohesif dan koheren berdasarkan prinsip penafsiran, yaitu: (1) pasangan berdekatan, yang mengacu pada unsur antarwacana (koteks) yang sangat menentukan penafsiran makna wacana; (2) penafsiran lokal, yang mengingklusifkan unsur waktu dan ruang, yakni pesapa (untuk penafsiran personal) tidak membentuk konteks yang lebih besar; (3) prinsip analogi, yaitu logika dan pemahaman wacana berdasarkan keterlibatan pengalaman manusia; (4) pentingnya koteks yang membantu pemahaman dalam menafsirkan makna wacana. Koteks dapat berupa tuturan yang melibatkan suatu kalimat koheren dengan kalimat yang muncul kemudian.

Akibat dari upaya-upaya penafsiran makna wacana di atas ditegaskan bahwa pesapa tidak membuat koteks yang lebih luas. Dalam wacana muncul implikasi konvensional dan konversasional; keutuhannya tercipta melalui berbagai upaya yang memanfaatkan sarana kohesi dan koherensi.

Halliday dan Hasan (1976: 29—37; 1989: 82) menyebutkan bahwa pemarkah kohesi terdiri atas: referensi, substitusi, ellipsis, konjungsi, dan leksikal. Empat piranti kohesi terdahulu diklasifikasikan sebagai kohesi gramatikal. Selanjutnya, piranti kohesi yang kelima digolongkan sebagai kohesi leksikal, yakni kata-kata yang dipilih sebagai upaya untuk membangun teks yang apik. Pemarkah kohesi leksikal meliputi: (1) reiterasi, yang terdiri atas: repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, meronimi; (2) kolokasi, dan (3) ekuvalensi.

Analisis wacana yang dilakukan oleh Sumarlan dkk. (2004) rata-rata mengedepankan aspek leksikal dan aspek gramatikal; konteks (situasi dan sosial budaya) yang pada dasarnya dirujuk dari Halliday dan Hasan (1976, 1989). Analisis aspek-aspek wacana tersebut dapat memberikan pemahaman konseptual dan operasional terhadap upaya kohesi dan koherensi (band. Tarigan, 1987: 102-103; Djajasudarma, 1994: 29—54; Rani dkk. (2004: 94—141).

Adanya berbagai faktor internal bahasa (sistemik) dan eksternal bahasa (ekstrasistemik) memunculkan variasi bahasa dengan berbagai ragamnya. Dalam perspektif Saussurian menjadi jelas perbedaan bahasa pada suatu tingkat (parole), tetapi sama atau senilai pada tingkat lain (langue). Pike (1967) menyebutkan konsep dikotomi linguistik tersebut sebagai etik (parole) dan emik (langue), yakni konsep yang mendasari analisis linguistik dalam mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan mengungkapkan unsur-unsur bahasa (Bell, 1995: 134—137; Duranti, 1997: 172—174).

Konsep kewacanaan di atas menyiratkan bahwa koherensi sebuah wacana (tekstual) tidak hanya terletak pada hubungan pemarkah kohesi, akan tetapi masih banyak faktor lain yang memungkinkan terciptanya koherensi, seperti: latar belakang pengetahuan pemakai bahasa atas bidang permasalahan (subject matter), pengetahuan atas latar budaya dan sosial, dan kemampuan “membaca” tentang hal-hal yang tersirat, dan sebagainya (Rani, dkk. (2004: 134). Dalam kaitan itu, Widdowson (1979) menyebut bahwa koherensi mengacu pada aspek tuturan. Hubungan semantis proposisi yang terselubung disimpulkan dengan menginterpretasikan tindak ilokusinya. Demikian pula Eriyanto (2001: 221—281) yang secara sistematis menggambarkan koherensi sehubungan dengan realitas wacana sebagai satu-kesatuan dalam tiga dimensi, yaitu: teks, kognisi sosial, dan konteks (band. Lyon, 1970: 143; Brown dan Yule, 1983: 23—25; Van Dijk, 1985: 115—133).

Teks merupakan pengejawantahan wacana, baik sebagai realitas ujaran yang kontekstual maupun tulisan. Teks bersangkut paut dengan struktur dan strategi yang dipakai untuk mendukung tema tertentu. Struktur teks terdiri atas: struktur makro, super struktur, dan struktur mikro. Terdapat makna global (umum) di dalam struktur makro, yakni tampak pada tema teks. Super struktur adalah hubungan semantis yang terdapat pada bagian-bagian teks dalam satu-kesatuan, yang meliputi: bagian pendahuluan, bagian isi, bagian penutup, dan bagian simpulan. Struktur mikro adalah hubungan semantis unsur-unsur bahasa yang membangun teks, yang meliputi: pilihan kata, kalimat, proposisi, gambar, dan gaya. Struktur teks tersebut menunjukkan  hakikat teks sebagai satuan makna yang melebihi satuan-satuan kebahasaan lainnya (Eriyanto, 2001: 221—281). Sehubungan dengan hal tersebut, Brown dan Yule (1983: 23—25) menyebutkan bahwa teks mesti dipandang dari dua sudut secara bersamaan, yaitu teks sebagai produk budaya dan proses budaya. Dimensi teks sebagai produk budaya merupakan keluaran (out put), yakni hasil budaya yang dapat dipelajari dan diungkapkan secara sistematis sehubungan dengan struktur yang memiliki fungsi dan makna tertentu. Selanjutnya, dimensi teks sebagai proses budaya merujuk pada realitas konteks penggunaan bahasa dan kognisi sosial yang fungsional dalam masyarakat. Artinya, teks yang berkembang dalam masyarakat dipandang sebagai upaya pemilihan makna secara terus-menerus, bagaikan jalan setapak atau jalan kecil yang memiliki jaringan-jaringan dan membentuk suatu sistem (kebahasaan) yang terstruktur, terpadu, dan fungsional (band. Levi – Strauss, 1963: 68-69).

Kognisi sosial bersangkut paut dengan pandangan/kesadaran, pengetahuan, dan prasangka masyarakat pemakai bahasa. Realitas unsur luar bahasa ini mewarnai proses produksi teks dan ikut menetukan keutuhan teks yang koheren, terutama pemakai bahasa yang sekaligus sebagai pelibat mempunyai peranan masing-masing. Peranan pelibat, ada yang cenderung mendominasi atau termarjinalkan karena suatu alasan. Aminuddin, dkk. (2002: 41—44) dengan mengutip pendapat Fowler (1976: 168) menyebutkan bahwa pemakai bahasa merepresentasikan sesuatu melalui aktivitas berpikir sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, dan karakteristik kehidupan dunia simboliknya secara internal. Demikian pula proses dan hasil representasi bahasa, secara keseluruhan ditentukan oleh metakognisi, daya persepsi, dan kreativitas penuturnya. Jadi makna bahasa, di samping ditentukan oleh aspek linguistiknya, juga tergantung pada kognisi sosial, yakni pandangan pemakai bahasa dalam mempersepsikan dan mengabstraksikan referensinya. Hal tersebut mewarnai ciri identifikasi bahasa yang digunakan oleh penuturnya, seperti yang terdapat dan tersirat dalam kosa kata, relasi fungsi transitivitas, dan struktur sintaktik.

Kosa kata dapat dipandang sebagai indeks kebudayaan, yang fungsinya adalah menandai, mengacu, dan mengemban kesadaran batin pemakai bahasa mengenai suatu hal. Makna kata-kata dalam kesadaran batin akan mencari dan membentuk satuan-satuan hubungan serta pengertian tertentu. Hubungan semantis kosa kata yang fungsional ini merujuk pada proses transitivitas, seperti: pola hubungan subjek, predikat, objek, dan keterangan; pola pembentukan proposisi pada umumnya dengan piranti atau pemarkah kohesi dan koherensi.

Hadirin yang saya muliakan

2.2 Realitas Wacana Menurut Konteks Situasi

Peranan konteks sangat penting dalam upaya penafsiran makna karena pemarkah kontekstual dapat membantu pemahaman terhadap keserasian dan kepaduan hubungan proposisi-proposisi dalam wacana yang koheren. Malinowsky (1923, 1935) memperkenalkan dua jenis konteks, yaitu: konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi adalah pemerian yang berciri hubungan-hubungan makna yang dapat membuat orang mampu melakukan penafsiran makna-makna dan menjelaskan cara orang berinteraksi. Konteks budaya yang juga disebut sosiokultural, yaitu unsur luar bahasa yang dipertimbangkan dalam studi variasi bahasa, termasuk pula di dalamnya mengenai realitas wacana yang berkembang dalam masyarakat. Sosiokultural adalah sesuatu yang berkenaan dengan segi-segi sosial dan budaya masyarakat. Sosiokultural mempunyai implikasi yang luas dalam pemakaian bahasa, baik yang diungkapkan secara lisan maupun tertulis. Firth (1964) tertarik dengan konsep sosiokultural yang diperkenalkan oleh Malinowsky tersebut. Akhirnya, Firth berpandangan bahwa ilmu bahasa adalah studi tentang makna. Semua makna merupakan fungsi dalam konteks (Nababan, 1984: 13—17; Soedjatmiko, 1992: 78—82; Kridalaksana, 1992: 12-13).

Konteks adalah keseluruhan lingkungan teks (lisan, tertulis, dan situasi atau kejadian-kejadian non verbal) (Halliday dan Hasan, 1990: 5). Fowler (1986) menegaskan bahwa konteks dalam perspektif kajian linguistik kritis merupakan salah satu unsur luar bahasa yang terdiri atas: konteks ujaran (context of utterance), konteks kebudayaan (context of culture), dan konteks referensi. Konteks ujaran adalah konteks pertuturan berupa situasi, media yang digunakan dalam pertuturan, lokasi, persona yang terlibat, kondisi saat pertuturan berlangsung; berbagai situasi dan kondisi pada umumnya yang memungkinkan terjadinya peristiwa tuturan. Konteks budaya adalah konteks pertuturan yang mencakup seluruh jaringan aktivitas sosial, konvensi ekonomi, dan aturan lembaga kebudayaan secara luas. Konteks referensi merupakan konteks pembicaraan yang berkaitan dengan topik atau pokok permasalahan. Konteks referensi berkaitan erat dengan konteks kebudayaan, sifatnya saling mendukung dan melengkapi satu sama lain dalam upaya untuk memahami makna peristiwa bahasa, seperti yang tersirat pada wacana (tekstual) (Aminuddin, dkk., 2002: 37—41).

Hymes (1985: 53—62) menyebutkan bahwa konteks situasi merupakan salah satu faktor penentu komunikasi. Hal tersebut ditegaskan sebagai pendekatan etnografi komunikasi dengan akronim “SPEAKING”. Konteks situasi ini sesungguhnya sudah diperkenalkan oleh Hymes sejak tahun 1962 dengan sebutan  etnografi berbahasa, yang terdiri atas beberapa komponen, seperti: latar dan suasana (Setting and scene), para partisipan (Participants), tujuan (End), urut-urutan tindakan (Act sequences), pokok pembicaraan (Key), perangkat tutur (Instrumentalities), norma-norma pembicaraan (Norms), dan jenis tutur (Genres) (band. Gumperz dan Hymes, 1972: 58—762; Sherzer dan Bauman, 1974: 417—451).

Pandangan dari sudut semiotik sosial bahwa konteks adalah  sistem tanda – bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia. Konteks dapat memperkirakan, membantu untuk menjelaskan, atau memberikan pengetahuan dan keterangan tentang makna yang dipertukarkan dalam komunikasi. Adapun ciri konteks dalam pandangan semiotik sosial meliputi: medan wacana (the field of discourse), pelibat wacana (the tenor of discourse), dan sarana wacana (the mode of discourse). Medan wacana merujuk pada peristiwa dan sifat tindakan sosial yang sedang berlangsung, yang di dalamnya termasuk peran partisipan dan bahasa sebagai unsur pokok. Pelibat wacana mengacu pada orang-orang yang mengambil bagian; sifat, kedudukan, dan peranan para pelibat, seperti: jenis-jenis hubungan peranan tertentu yang terdapat di antara para pelibat, termasuk hubungan-hubungan tetap dan sementara, baik jenis peranan tuturan yang mereka lakukan dalam percakapan maupun rangkaian keseluruhan hubungan-hubungan yang secara kelompok mempunyai arti penting yang melibatkan mereka. Sarana wacana merujuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa. Demikian pula hal yang diharapkan oleh para pelibat diperankan bahasa dalam situasi tertentu: organisasi simbolik teks; kedudukan dan fungsinya dalam konteks, termasuk salurannya (dituturkan, ditulis, atau gabungan keduanya) dan sarana retoriknya, yakni sesuatu yang akan dicapai teks berkenaan dengan pokok pengertian, seperti: membujuk, menjelaskan, mendidik, dan sebagainya (Halliday dan Hasan, 1989: 5—14).

Hadirin yang saya hormati

3. Linguitik Budaya

Studi bahasa (wacana) dalam perspektif linguistik budaya pada intinya menyorot dan mengangkat berbagai aspek bahasa dan kebudayaan; bahasa sebagai bagian, indeks, dan simbol budaya yang tercermin dalam objek kajian, yang terpola dalam bentuk, fungsi, dan makna. Sesungguhnya hal tersebut sudah terurai dan terimplisit dalam paparan wacana di depan. Namun demikian, penjelasan terminologi dan cakupannya memang terasa penting untuk ditegaskan sehingga tidak kabur dalam penanganannya. Hal pokok yang mesti diingat dan dipegang dalam studi ini bahwa budaya tercermin dalam bahasa. Artinya, bahasa (wacana) yang dijadikan objek kajian mengandung budaya masyarakat pendukungnya. Sehubungan dengan hal tersebut, konsep (teori) linguistik budaya yang menjadi payung besar dalam studi ini, yang meliputi bentuk, fungsi, dan makna wacana (tekstual dan kontekstual) dijabarkan dengan singkat sebagai berikut.

3.1 Etnografi Bahasa: Bahasa sebagai Bagian, Indeks, dan Simbol Budaya

Terminologi linguistik budaya pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Suharno (1981/1982) dengan sebutan “Linguistik Kultural” dalam tulisannya yang berjudul “Linguistik Kultural: Peranan Manusia dalam Telaah Bahasa”. Kemudian, istilah keilmuan yang sama juga dikemukakan oleh Palmer (1996) dengan sebutan “Cultural Linguistics” dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Toward a Theory of Cultural Linguistics”, yang diterbitkan di USA oleh University of Texas Press. Cikal bakal keilmuan linguistik budaya sudah dikembangkan  jauh sebelumnya di Amerika Serikat dan Eropah. Franz Boas (1858—1942) seorang ahli Antropologi dan ahli bahasa-bahasa Indian Amerika menyebutnya sebagai “Linguistik Antropologi”, sedangkan di Eropah disebut “Etnolinguistik”, seperti yang dapat dilihat dalam beberapa tulisan, antara lain: Hymes (1980), Seong (1997), dan Duranti (2001). Adapun cakupan studi linguistik budaya, antara lain menelaah: (1) hubungan intrinsik antara bahasa dan budaya, dan bahasa dipandang sebagai fenomena budaya; (2) memberikan perhatian pada fungsi yang diperankan bahasa dan bahasa sebagai institusi budaya; (3) kajiannya berkaitan dengan istilah “language in culture” atau “language and culture”, ada makna (budaya) di balik bahasa; (4) studinya menjangkau semua aspek (tujuh aspek) universal dari kebudayaan; (5) sifat penelitiannya yang cenderung kualitatif yang bermuara pada penyesuaian proses dan hasilnya (band. Riana, 2003: 8-9).

Realitas bahasa, baik sebagai teks maupun konteks merupakan salah satu sistem dalam kebudayaan. Bahasa dan kebudayaan berinteraksi timbal balik. Studi bidang ilmu interdisipliner bahasa dan budaya ditengarai sebagai “Linguistik Budaya”. Palmer (1996: 96—113) menyebutkan bahwa perhatian utama linguistik budaya adalah bukan bagaimana orang mengatakan suatu realitas yang objektif, melainkan bagaimana orang mengatakan sesuatu yang dipikirkan? Pikiran berpengaruh dan menentukan bahasa yang diformulasikan dalam sebuah pertanyaan menarik, yakni bagaimana orang membingkai berbagai pengalaman dengan maknanya yang abstrak? Artinya, ada makna (budaya) di balik penggunaan bahasa (band. Foley, 1997: 1; Duranti, 1997: 1-2; Pastika, 2004: 35—37).

Studi bahasa dalam perspektif linguistik budaya mempertimbangkan pandangan atau pikiran konseptual yang relevan dari para tokoh yang sering disitir oleh I Gusti Ngurah Bagus dan para pengikutnya dalam kuliah-kuliahnya di Program Pascasarjana, Fakultas Sastra, Universitas Udayana Denpasar (1996—2005), antara lain: Humboldt (1830), Saussure      (1857—1913), Boas (1888—1897), Malinowsky (1923), Halliday (1925—1989), Firth    (1952—1959), Sapir – Whorf (1956), Jacobson (1960), Hymes (1967), Ricoeur (1976), Alisjahbana (1977), Suharno (1981/1982), Thomson (1984), Masinambow (1985), dan Kridalaksana (1991).

Kecuali Saussure, semua tokoh pemikir bahasa di atas terkesan mengedepankan makna daripada bentuk. Saussure (1977: 1—101) dalam konsep linguistik struktural terpengaruh oleh ajaran sosiologi “Durkheim” yang menganut aliran filsafat positivisme. Namun, ajaran-ajaran  linguistiknya masih menempatkan studi makna menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan bentuk, seperti tampak pada konsep dasarnya, antara lain: significant (yang menandai, segi bentuk) dan signifie (yang ditandai, segi isi, atau makna). Sehubungan dengan hal tersebut, Kridalaksana (1991: 14—16) menyebutkan bahwa sistem bahasa (tekstual dan kontekstual) mencakup hubungan struktural dan fungsional; penjabarannya terdiri atas: bentuk, fungsi, dan makna (band. Alisjahbana, 1977: 290-291; Hoed, 1994: 1—26).

Selama ini, linguistik telah bergerak dari orientasi modern menuju purna modern (postmodernism). Orientasi tersebut ditandai dengan telah kaburnya garis-garis pemisah antara linguistik dan ilmu-ilmu sosial. Tampak pula tumpang tindih linguistik dengan psikologi, sosiologi, antropologi, etnologi, dan sebagainya (Verhaar, 1994: 14—21). Konsekuensinya, linguistik budaya yang juga disebut linguistik antropologi, antropolinguistik, atau etnolinguistik sebagai salah satu bidang ilmu interdisipliner yang mempelajari hubungan bahasa dan budaya juga memasuki paradigma purna modern. Eratnya hubungan bahasa dan kebudayaan dapat dilihat pada penggunaan bahasa yang di dalamnya termasuk satuan lingual yang fungsional (fonologi dan tata bahasa) sebagai realitas pengalaman, pengetahuan, dan pandangan pemakainya (Kuper dan Kuper, 1996: 547-548; Palmer, 1996: 13—23; band. Duranti, 1997: 11).                    Hubungan bahasa dan kebudayaan dalam kaitannya dengan studi komunikasi lintas budaya, Wierzbicka (1991: 2—4) pada intinya mengemukakan bahwa perbedaan budaya berimplikasi pada perbedaan cara berinteraksi. Perbedaan yang terdapat pada setiap bahasa alamiah dapat dieksplikasi dengan cara yang sama melalui makna asali. Adapun makna asali terdiri atas seperangkat makna yang diwariskan manusia sejak lahir tidak berubah walaupun ada perubahan dalam kebudayaannya. Selanjutnya, Goddard (1994: 2) menegaskan bahwa makna asali merupakan refleksi dari pembentukan pikiran (band. Whorf, 1979: 207—219; Wierzbicka, 1996: 31; Beratha, 1998: 287—290).

Kuper dan Kuper (1996: 547-548) menyebutkan keterkaitan bahasa dan budaya dalam tiga hal, yaitu: bahasa sebagai bagian budaya, bahasa sebagai indeks budaya, dan bahasa sebagai simbol budaya. Dimensi hubungan bahasa dan budaya tersebut dapat dijabarkan bersinergi dengan beberapa konsep terkait lainnya berikut ini.

3.1.1 Bahasa sebagai Bagian Budaya

Sebagian besar perilaku manusia dilingkupi oleh bahasa, sehingga bahasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya. Realitas upacara, nyanyian, ceritera, mantera, kutukan, doa, dan hukum adalah tindakan, kejadian, atau peristiwa bahasa. Siapapun yang akan memasuki dan memahami sebuah budaya harus menguasai bahasanya karena hanya melalui bahasa, seseorang bisa berpartisipasi dan mengalami sendiri sebuah budaya (Kuper dan Kuper, 1996: 547-548).

Bahasa dan kebudayaan dapat dipandang sebagai sistem yang terpisah, atau sistem hubungan timbal balik yang koordinatif dan subordinatif. Apabila pengutamaan dilakukan pada bahasa, maka bahasalah yang menjadi penentu corak kebudayaan. Penonjolan sistem bahasa yang demikian sudah menjadi pendirian teoretis Sapir – Whorf. Carrol (1956) memperkenalkan pendirian teoretis dimaksud sebagai “Hipotesis Sapir – Whorf” yang antara lain menyebutkan bahwa pikiran berada di bawah kekuasaan bahasa. Ilmu yang dikuasai manusia adalah sesuai dengan bahasanya karena sistem bahasa  yang membentuk idea atau pemrogram kegiatan mental. Artinya, kita menangkap dan menganalisis dunia luar (pengalaman) sesuai dengan sistem bahasa yang ada dalam pikiran. Hipotesis itu pada dasarnya mengandung prinsip “bahasa mempengaruhi pikiran”. Prinsip itulah yang disebut dengan relativitas kebahasaan (linguistic relativity) (Whorf, 1979: 207—219; Wardhaugh, 1986: 212—213).

Analisis bahasa dan kebudayaan yang berkembang hingga dewasa ini pada umumnya memperhatikan hipotesis Sapir – Whorf. Hipotesis tersebut ditengarai memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam banyak hal, realitas bahasa mencerminkan pikiran. Artinya, bahasa yang dipakai dalam interaksi sosial merupakan pengejawantahan pikiran penuturnya. Pikiran berpengaruh dan tercermin pada bahasa yang dipakai oleh penuturnya. Humboldt (1830—1835) menyebutkan bahwa hakikat bahasa dan pikiran berhubungan sangat erat dan tidak terpisahkan. Ia menegaskan bahwa bahasa sebagai kemampuan kreatif (energia), bukan sekadar produk (ergon). Bahasa tidak seharusnya diidentifikasikan sebagai produk mati hasil analisis tata bahasawan. Kemampuan berbahasa adalah suatu bagian penting dari pikiran manusia. Humboldt mengikuti jalan pikiran Herder mengenai jati diri masyarakat-masyarakat bahasa yang berbeda sebagai ciri khas dari bangsa atau kelompok pemakai bahasa (Miller, 1968: 32—34; Robin, 1990: 242—249).

Pengaruh pikiran terhadap bahasa sebagai perilaku-perilaku manusia, Chauchard (1983: 13—40) menyebutkan bahwa bahasa adalah penemuan manusia yang paling menakjubkan. Manusia sungguh-sungguh “sapien” (berpikir, berbudi, dan bijaksana). Hanya karena ia “loquens” (berbahasa, bertutur) dapat belajar bercakap-cakap. Hal seperti tu hanya bisa dilakukan atau dicapai oleh manusia karena perkembangan otaknya. Kemudian, kemajuan pikiran manusia dapat menghasilkan bahasa yang membuatnya mampu untuk mengembangkan penalaran-penalaran baru. Sejalan dengan itu, Santoso (1982: 225—229) menyebutkan bahwa sesuatu yang pokok adalah pemikiran konseptual dinyatakan dalam bahasa. Fungsi bahasa yang paling dasar adalah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan. Pikiran dan bahasa berpengaruh timbal balik. Implikasinya dalam penilaian, yaitu jelas atau kaburnya pikiran seseorang tercermin pada bahasanya. Apabila bahasanya sudah terang, barulah pemikiran dapat diteliti mengenai benar dan salahnya melalui pemakaian bahasanya secara konseptual (Suriasumantri, 1982: 1—40; Nababan, 1992: 140—161; Sihombing, 1994: 3—9).

Sejalan dengan konsep hubungan sistem bahasa dan kebudayaan di depan, Masinambow (1985: 180—189) menyebutnya sebagai sistem sosial budaya, yang terdiri atas: sistem ideologi, sistem sosial, teknosistem, dan sistem kebahasaan (verbal dan non verbal). Konsep sistem sosial budaya tersebut pada dasarnya menekankan bahwa sistem kebahasaan terwujud ke dalam tingkah laku kebahasaan dan bahasa-bahasa. Ia memberikan model pemahaman lebih lanjut mengenai proses perubahan bahasa yang sifatnya saling tergantung dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya dalam jaringan sistem, yaitu sistem budaya, sistem bahasa, sistem sosial, dan kebudayaan material.

3.1.2 Bahasa sebagai Indeks Budaya

Realitas bahasa merupakan produk dan proses dari perannya sebagai bagian kebudayaan. Bahasa menyingkap cara berpikir dan cara mengorganisasikan pengalaman dalam sebuah budaya. Tentu saja bahasa menyediakan istilah-istilah leksikal dari beragam benda budaya, nilai, dan perilaku yang diakui dalam budaya tersebut. Bahasa juga menyediakan tipologi asli, yang acuan-acuannya dikelompokkan, seperti: warna, gejala penyakit, hubungan kekerabatan, ritual, makanan, tanaman, bagian-bagian tubuh, spesies binatang, dan sebagainya. Semua itu merupakan tipologi bahasa. Ikatan-ikatan budaya serta kualitas-kualitas sistematis yang mendapat pengakuan budaya diungkapkan oleh bahasa berdasarkan ikatan budaya terkait (Kuper dan Kuper, 1996: 548).

3.1.3 Bahasa sebagai Simbol Budaya

Bahasa merupakan sistem simbol yang paling lengkap bagi manusia, sehingga tidak mengherankan bahasa menjadi simbol sebuah etnokultur. Hal itu  bukan hanya kasus suatu bagian mewakili keseluruhan, tetapi juga berlaku sebaliknya, bagian tersebut menjadi suatu rangkaian simbol seutuhnya. Hal tersebut dalam beberapa kasus menjadi penyebab bagi dirinya sendiri. Pergerakan dan kompleksitas penggunaan bahasa sebagai simbol dapat menggerakkan rakyat dalam membela dan mengangkat budaya yang terkait dengan mereka (Kuper dan Kuper, 1996: 548).

Linguistik Boasian menaruh perhatian pada etnosemantik, yakni aspek psikologis penutur asli yang terdapat pada wacana yang aktual. Palmer (1996: 35—37) melakukan studi wacana dengan sebuah sintesis linguistik kognitif yang ditengarai sebagai linguistik budaya, yang meliputi: linguistik Boasian (lingusitik dan etnologi), etnosemantik, dan etnografi berbahasa (band. Hymes, 1964: 15—22).

Hubungan bahasa dalam suatu jaringan sistem kebudayaan; bahasa terletak di antara sistem social dan sistem budaya. Hubungan tersebut menyiratkan bahasa berfungsi sebagai sarana pergaulan sosial dan mengungkapkan atau melambangkan sistem budaya. Adapun sistem budaya tercermin pada ketiga aspek kebudayaan dalam jaringan sistem itu. Sistem bahasa mencerminkan sistem sosial dan kebudayaan fisik (material). Sistem sosial tercermin pada kebudayaan fisik (Masinambow, 1985: 180—189; band. Alisjahbana, 1985: 141—153; Suharno, 1985: 66—75; Koentjaraningrat, 1992: 1—8).

Hadirin yang saya muliakan

3.2 Bahasa: Bentuk, Fungsi, dan Makna

Seperti yang telah dikemukakan di depan bahwa objek materi kajian bahasa (wacana) dalam perspektif linguistik budaya meliputi: bentuk, fungsi, dan makna. Sehubungan dengan hal tersebut, ajaran Saussure (1916) mengenai strukturalisme dan semiologi menjadi penting dan strategis dipertimbangkan sebagai landasan teori (band. Mbete, 2004: 25—31).

3.2.1 Bentuk

Saussure adalah seorang perintis linguistik modern, yang salah satu ajarannya mengenai strukturalisme membuka jalan untuk analisis bahasa (wacana). Strukturalisme, sebagian telah mengandung unsur purna modern. Studi bahasa ditekankan pada bentuk yang rasional dari tuturan (Verhaar, 1994: 18-19).

Ada enam konsep dasar yang telah diwariskan oleh Saussure sebagai ajaran untuk memahami bahasa manusia dan kebudayaannya, yaitu: (1) linguistik merupakan ilmu yang mandiri; (2) bahasa adalah sistem yang otonom, yang terdiri atas dua tataran, yaitu langue dan parole; (3) pengkajian bahasa dapat dilakukan secara sinkronik dan diakronik; (4) sistem bahasa memiliki dua jenis hubungan antar komponen, yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik (asosiatif); (5) bahasa merupakan sistem tanda, yang terdiri atas: segi bentuk (significant) dan segi isi, maksud, atau makna (signifie); (6) pembentukan tanda bersifat manasuka dan konvensional (Saussure, 1993: 1—101; Hoed, 1994: 1—26).

Perkembangan strukturalisme melahirkan aliran semiotik, yaitu aliran yang memusatkan perhatian pada studi tentang tanda. Semiotik adalah cabang ilmu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses penggunaannya (Zoest, 1993: 1—7).

Bahasa dan kebudayaan dapat dipahami melalui sistem tanda. Hubungan timbal balik bahasa dan kebudayaan, bahasa dalam kebudayaan, atau bahasa menandai kebudayaan dapat dipandang sebagai suatu perangkat sistem tanda. Geertz memandang kebudayaan sebagai “teks”, yang unsur-unsurnya dapat dikaji maknanya. Ia bahkan memandang kebudayaan sebagai sistem semiotik. Studi kebudayaan berarti mempelajari kode-kode bersama maknanya (Keesing, 1981: 48-49).

Levi – Straus (1958) mengemukakan bahwa sistem kekerabatan merupakan suatu bahasa. Pandangan tersebut sejalan dengan ajaran Saussure yang menyebutkan: bahasa merupakan sistem tanda yang utama. Sistem tanda dikatakannya sebagai “semiologi”, yakni ilmu yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan masyarakat. Sistem tanda dimaksud terdiri atas: bentuk dan makna, baik internal maupun eksternal.

Hjelmslev (1934) mengemukakan bahwa bahasa mengabstraksikan suatu sistem tanda yang bersifat umum. Alirannya itu diberi nama glosemantik. Kemudian, Barthes (1964) melihat semua gejala budaya sebagai tanda yang dapat dianalisis dengan metode linguistik, khususnya dengan dalil Saussure: significant – signifie yang dinyatakan dengan istilah expression – contenu; sintagmatik – paradigmatik yang dinyatakan dengan istilah sintagme – system. Gejala budaya tersebut dilihat sebagai tanda yang bersifat terbuka.

Budaya manusia penuh diwarnai dengan simbol. Simbolisme adalah paham yang mengikuti suatu pola berdasarkan simbol-simbol tertentu. Sepanjang pengetahuan manusia, simbolisme telah mewarnai tindakan manusia, baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan, maupun religinya. Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam religi. Hal itu dapat dilihat pada segala bentuk upacara keagamaan dan kisah-kisah para nabi, rsi, awatara Tuhan, seperti yang terdapat dalam cara-cara manusia sebagai umat beragama dalam berdoa atau memuja Tuhan yang selalu diikuti dengan tingkah laku simbolis (Herusatoto, 2001: 9—11).

Manusia adalah makhluk berbudaya simbolik. Cassier (1987) menyebutkan bahwa manusia sebagai hewan yang bersimbol (animal simbolicum). Pandangan tersebut bertolak dari hasil penelitian J. Von Uexkuell mengenai binatang. Ada sistem simbolik yang membedakan manusia dengan binatang. Kelebihan manusia adalah aktivitas dan penggunaan simbol dalam pembudayaannya (Triguna, 2000: 2—4). Kemudian, ia menegaskan bahwa simbol (simbol) mempunyai pengertian yang berbeda dengan tanda (sign) dan isyarat (gesture). Simbol tidak semata-mata merupakan konstruksi kognitif, tetapi bersifat emotif. Manusia dalam hal ini berfungsi sebagai penanda (designator). Simbol tidak memiliki kenyataan fisik, tetapi hanya mempunyai nilai fungsional. Tanda adalah bagian dari “dunia fisik” yang berfungsi sebagai operator dan memiliki substansi. Isyarat adalah suatu hal atau keadaan yang diberitahukan oleh subjek kepada objek.

Kebudayaan dapat juga disebut sistem simbol. Geertz berpandangan bahwa kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan yang mendorong terwujudnya perilaku tertentu. Parson menyatakan bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem menyeluruh, yang terdiri atas pemerian terhadap laku ujaran dan laku ritual yang mengandung makna tertentu. Unsur terkecil dari sistem ini disebut sistem budaya. Jadi, hubungsan simbol dengan makna (bahasa) dalam sistem budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan (Bactiar, 1982: 37; band. Triguna, 2000: 1—4; Herusatoto, 2001: 4–11).

3.2.2 Fungsi

Linguistik fungsional hampir seluruhnya masuk ke dalam kawasan purna modern. Isu postmodern yang merambah dunia kelinguistikan memusatkan perhatian pada semestaan bahasa, tipologi bahasa, analisis wacana, tata bahasa “lahiriah” dari kebutuhan penyampaian informasi dan deiksis. Persoalan yang digarap adalah sifat-sifat tipologi bahasa atas dasar data yang diambil sebanyak-banyaknya (Verhaar, 1995: 19).

Bahasa mempunyai dua fungsi secara garis besarnya, yaitu fungsi intern bahasa (intralingual) dan fungsi ekstern bahasa (ekstralingual). Konsep fungsi intern bahasa meliputi aspek bentuk formal bahasa, seperti: bunyi, kata, frase, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Kategori bahasa pada tataran wacana terdapat sarana, piranti, atau upaya kohesi dan koherensi yang harus ditentukan statusnya atas dasar nilai fungsionalnya. Konsep fungsi ekstern bahasa berkaitan dengan konteks situasi dan sosiokultural. Hymes (1962) mengemukan tujuh fungsi bahasa yang tipikal sehubungan dengan konteks etnografi komunikasi seiring dengan akronim “SPEAKING” seperti yang telah dikemukakan di depan. Adapun model fungsi bahasa yang dikembangkan oleh Hymes diadopsi dari konsepnya Jacobson (1960) yang telah melakukan penyempurnaan terhadap  teori fungsi dari Buhler (1934). Tiga model fungsi bahasa yang penting dan pantas dikemukakan di sini, yang kehadirannya merupakan reaksi dari ketidakpuasan terhadap model fungsi bahasa sebelumnya, yaitu: model tradisional, model etnografi komunikasi, dan model metafungsi (Lyon, 1970: 143; Halliday, 1970: 101; Robinson, 1972: 154—172; Halliday dan Hasan, 1989: 5—14).

Jacobson (1960) merevisi dan memodifikasi model tiga fungsi bahasa (kognitif, evaluatif, dan afektif) menjadi enam fungsi yang bertumpu pada aspek-aspek pembicaraan, yaitu: (1) fungsi emotif, ekspresif, afektif terhadap aspek pembicara (addresser); (2) fungsi konatif terhadap pendengar (addressee); (3) fungsi referensial, kognitif, denotatif terhadap aspek konteks (contecxt); (4) fungsi puitik terhadap aspek pesan (message); (5) fungsi fatik terhadap aspek kontak (contact); (6) fungsi metalinguistik terhadap aspek kode (code) (Tarigan, 1987: 11—14; Suparno, 2002: 7—9; Ricoeur, 2003: 63).

Tujuh fungsi bahasa dari Hymes (1962), yaitu fungsi ekspresif (emotif), direktif (konatif, persuasif), puitis, kontak (fisik, psikologi), metalinguistik, referensial, dan kontekstual (situasi). Keserasian penggunaan bahasa tergantung pada berbagai kombinasi dari unsur-unsur peristiwa bahasa, yang terdiri atas: pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver), bentuk pesan (message form); saluran (channel), yang disampaikan secara lisan atau tertulis; sandi (code), yang meliputi: dialek, bahasa, atau jargon; judul, topik (topic), dan latar atau situasi (setting or situation) (Stub, 1983: 46-47; Tarigan, 1987: 11—14; Kridalaksana, 1991: 8-9; Ibrahim, 1993: 215—224).

Bahasa, yakni realitas wacana sebagai teks linguistik sistemik fungsional mencakup: (1) bahasa sebagai realitas fisik, yakni medan wacana; (2) bahasa sebagai realitas sosial, yakni pelibat wacana; (3) bahasa sebagai realitas semiotik di dalam teks, yakni sarana wacana. Sehubungan dengan hal tersebut, mikrofungsi yang meliputi fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual merupakan metafungsi yang dianggap sebagai mekanisme yang mengubah makna menjadi sistem gramatikal; struktur gramatikal dan tindak ujar (Halliday dan Hasan, 1989: 15—28). Sebelumnya, Pike (1967) menggunakan istilah etik dan emik terhadap hubungan metafungsi yang bersifat umum dan khusus. Penentuan kebermaknaan terhadap realitas bahasa tersebut selalu terkait dengan ketiga metafungsi itu. Jadi, linguistik sistemik fungsional memberikan tekanan pada makna berdasarkan fungsi bahasa dalam masyarakat. Makna dapat dilihat dari segi relasi dan akibatnya dalam sistem. Demikianlah fungsionalisme, yang memberikan tekanan pada relasi dan fungsi (band. Bell, 1974; Hoed, 1994: 10; Ibrahim, 1995: 132—137).

3.2.3 Makna

Bahasa (wacana) yang fungsional dalam konteks situasi dan budaya menyiratkan atau mengandung makna tertentu. Setiap studi makna, kita mesti ingat dan tidak boleh mengabaikan konsep Saussure (1916) mengenai “tanda linguistik” yang terdiri atas bentuk dan makna, yang bagaikan dua sisi mata uang dalam satu-kesatuan. Bentuk dan makna merupakan unsur intralingual, yaitu unsur yang merujuk pada suatu referen. Acuan atau referen merupakan unsur ekstralingual yang mewarnai ciri ideasional bahasa yang digunakan, berkaitan dengan kosa kata, ciri transitivitas, dan struktur sintaktik.  Kosa kata mempunyai peranan penting yang berfungsi menandai, mengacu, dan sekaligus mengemban kesadaran batin pemakainya. Berbagai gambaran makna kata-kata dalam kesadaran batin akan mencari dan membentuk satuan pengertian tertentu. Hal tersebut merujuk pada proses transitivitas, yakni pemerkiraan pembentukan kata-kata yang disadari atau tidak; ideasionalnya diarahkan oleh pola hubungan pelaku (actor), atau penutur (sayer), proses (process), sasaran (goal), dan lokatif (locative) (Palmer, 1969: 3; Halliday dan Hasan, 1989: 18—23). Informasi, maksud, dan inferensi sama-sama merupakan gejala ekstralingual. Informasi cenderung dilihat dari sudut objek yang dibicarakan. Maksud cenderung dilihat dari sudut subjek yang membicarakan. Inferensi cenderung dilihat dari sudut pendengar atau pembaca dalam memahami makna di balik wacana, yakni makna wacana yang secara harafiah tidak diungkapkan oleh pembicara atau penulis (Djajasudarma, 1994: 43—45; Sobur, 2001: 19—29; Aminuddin, dkk., 2002: 42-43).

Sejalan dengan konsep makna di atas, penting dipertimbangkan konsep makna dari Ogden dan Richard (1923) yang menyebutkan bahwa makna dapat dianalisis secara referensial dengan model hubungan “segi tiga dasar”: bentuk, (nama, lambang), makna (pikiran, referensi), dan acuan (benda, referen). Hubungan referensial adalah suatu kata melambangkan pikiran dengan acuan tertentu. Tidak ada hubungan langsung antara bentuk kata atau sesuatu yang dilambangkan dengan acuannya (band. Ulman, 1977: 55—79; Sumarsono, 1982: 17).

Makna kata secara operasional sesungguhnya ada dalam diri manusia, karena manusialah yang menggunakan/memproduksi kata, tutur, wacana, atau teks. Manusia berkata, yang pada hakikatnya untuk mengkomunikasikan atau menginformasikan tentang sesuatu kepada komunikan dengan suatu maksud dan mengandung makna tertentu. Jadi, makna kata adalah penggunaannya dalam bahasa. Artinya, makna kata hanya bisa dicapai dengan mempelajari penggunaannya. Sehubungan dengan hal tersebut, Leech (1981: 9—23) menyebutkan bahwa penggunaan bahasa memiliki makna tertentu. Adapun makna bahasa dalam penggunaannya mencakup: (1) makna konseptual, denotatif, atau kognitif; (2) makna asosiatif, yang meliputi: makna konotatif, makna stilistik, makna afektif, makna reflektif, dan makna kolokatif; (3) makna tematik.

Paursen (1990: 2) menegaskan bahwa makna merupakan pembentuk utama kebudayaan. Kata memperoleh maknanya melalui penggunaannya dalam konteks budaya. Cassier (1987: 63—68) menyatakan bahwa makna berhubungan dengan kebudayaan, yang di dalamnya mengandung muatan mental dan kognitif berupa prasangka, pengetahuan, pandangan, kepercayaan, norma, dan nilai (band. Eriyanto, 2001: 221—281). Hal itu menunjukkan bahwa makna bahasa bukan dibentuk oleh aspek linguistiknya semata, melainkan juga oleh pandangan pemakai bahasa dalam mempersepsikan dan mengabstraksikan acuan (band. Miller, 1968: 19; Foley, 1991: 19; Duranti, 2001: 9; Aminuddin, dkk., 2002: 42—44).

Makna dan bahasa merupakan kerja kolektif. Komunikasi dapat berlangsung dengan semestinya hanya apabila ada kesepakatan dari semua pihak yang terlibat. Makna dan bahasa meniscayakan kerjasama antara pembuat pernyataan dan penafsirnya. Pernyataan dalam sebuah wacana (tekstual) mengandung maksud tersembunyi dari subjek pembuat pernyataan dalam konteks tertentu (Pike, 1973: 3; Sobur, 2001: 19—29).

Interpretasi (hermeneutic) merupakan sebuah metode pengungkapan makna yang terdapat dalam wacana. Perilaku dan tindakan manusia penting dipertimbangkan dalam penafsiran wacana. Hal itu merupakan upaya untuk mengetahui subjektivitas dan intersubjektivitas (Poedjosoedarmo, 2001: 87—168).

Penafsiran makna tanda bertitik tolak dari makna primernya. Masyarakat memberikan makna metabahasa atau konotasi. Kajian makna metabahasa yang bertumpu pada makna primer sebuah tanda disebut interpretasi. Kajian makna konotasi sebuah tanda menghasilkan pengertian tentang citra suatu gejala budaya secara lebih sistematis. Pengetahuan tentang citra sangat bermanfaat untuk mendukung berbagai kajian, seperti: bhahasa, seni, arsitektur, sejarah, arkeologi, iklan, dan kebijaksanaan (Hoed, 1994: 8—26).

Hermenuetik mempunyai peranan sangat penting dalam studi simbol, yaitu salah satu model cara berpikir filosofis untuk mengungkapkan makna di balik simbol. Keberhasilan seseorang menginterpretasikan pesan untuk kemudian diinformasikan kembali kepada orang lain adalah sepenuhnya tergantung pada cara penyampaian kepada orang yang bersangkutan. Dalam kaitan itu, hermeneutik diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Batasan umum tersebut selalu dianggap benar, baik untuk hermeneutik klasik maupun hermeneutik modern (Palmer, 1969: 3; Sumaryono, 1999: 24).

Interpretasi dapat dipakai sebagai cara untuk menguak tabir kekaburan tentang filsafat (makna). Model pembahasan filsafat ini sesungguhnya lebih banyak berhubungan dengan analisis linguistik (budaya). Pemanfaatan hermeneutik sebagai metode dan pedoman berpikir secara filosofis untuk memahami realitas kehidupan di dunia ini. Cara berpikir filosofis dimaksud dapat mengungkapkan makna yang terkandung di balik bahasa, pengalaman hidup sehari-hari, sejarah, seni, relegi, dan berbagai fenomena hidup lainnya (Sumaryono, 1999: 8—19).

Pemahaman hermeneutik dalam terminologi linguistik untuk menentukan kebenaran satuan lingual. Pemikir harus memenuhi standar makna dari sebuah kata, pernyataan, wacana, atau peristiwa bahasa. Pemikir bahasa tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang ketat tentang makna dan bisa bebas untuk mencoba menemukan arti baru serta mengadakan interpretasi. Penafsiran dalam studi wacana dapat dilakukan melalui beberapa upaya, antara lain: pasangan berdekatan, penafsiran lokal, prinsip analogi, pentingnya koteks dan konteks (situasi, sosial budaya, dan pragmatik) (Poespoprodjo, 1987: 1—19; Djajasudarma, 1994: 41—50; Sumaryono, 1999:      8—19).

Fenomena mitologi, kepercayaan, ideologi, dan sebagainya merupakan simbol-simbol budaya yang sarat dengan makna. Simbol-simbol budaya dimaksud mewarnai pikiran, sikap, dan tindakan manusia sebagai makhluk individu dan sosial, yang di dalamnya termasuk realitas penggunaan bahasa. Oleh karena itu, maka identifikasi dan penafsiran makna penting mempertimbangkan simbol-simbol budaya yang fenomenal seperti itu (Thompson, 2003: 131—278).

Hadirin yang saya muliakan

4. Penutup

Studi wacana dalam perspektif linguistik budaya, yang pada tataran konsep dan aplikasinya, pada intinya meliputi: (1) dimensi etnografi bahasa; (2) aspek internal dan eksternal bahasa. Dimensi etnografi bahasa (wacana), yakni hubungan bahasa dan budaya, yang mencakup: bahasa sebagai bagian budaya, bahasa sebagai indeks budaya, dan bahasa sebagai simbol budaya. Aspek internal dan eksternal bahasa (wacana) meliputi: bentuk, fungsi, dan makna.

Realitas bahasa (wacana) sebagai teks dapat dipandang sebagai produk dan proses budaya. Teks sebagai produk budaya merupakan keluaran (out put), sesuatu yang dapat direkam dan dipelajari karena mempunyai susunan tertentu yang dapat diungkapkan dengan sistematis. Teks sebagai proses budaya adalah pemilihan makna yang terus-menerus. Suatu perubahan berlangsung melalui jaringan makna dengan perangkat pilihan yang membentuk suatu lingkungan bagi perangkat lebih lanjut.

Wacana (tekstual dan kontekstual) pada hakikatnya memiliki bentuk, fungsi, dan makna dalam satu-kesatuan wujud kebudayaan. Dalam kaitan itu dapat pula dikaji nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Artinya, keserasian dan kepaduan hubungan aspek intralingual dan aspek ekstralingual menjadi dasar pertimbangan dalam menafsirkan terjadinya pertukaran makna teks dan konteks yang menyiratkan nilai-nilai budaya tertentu.

Aspek intralingual mencakup dimensi hubungan satuan-satuan lingual yang fungsional atau proposisi-proposisi yang kohesif dan koheren, terutama struktur dan tekstur yang ditandai dengan hubungan antarbagian teks serta piranti kohesi (gramatikal dan leksikal) yang padu. Aspek ekstralingual mencakup dimensi hubungan komunikatif dalam konteks situasi dan budaya yang menyiratkan kognisi sosial serta nilai-nilai tertentu. Jadi, bentuk wacana (tekstual dan kontekstual) yang kohesif dan koheren pada dasarnya mempunyai fungsi, makna, dan nilai-nilai budaya tertentu.

Studi wacana dalam perspektif linguistik budaya cenderung bersifat kualitatif. Hal tersebut bersekuensi terhadap penyesuaian penggunaan metodologi penelitian “etnografi wacana”. Studi ini mempunyai ciri-ciri yang kental dengan pendekatan fenomenologik yang humanistik, model etnometodologik, yang meliputi metode dan teknik: pengumpulan/perolehan data, analisis data, dan penyajian hasil penelitian. Adapun perolehan data dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: studi pustaka, observasi terlibat, dan wawancara. Demikan pula analisis data dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema-tema budaya dalam satu-kesatuan. Penyajian hasil penelitian dapat dilakukan dengan cara informal dan formal.

DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1977. Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Malaysia sebagai Bahasa Modenr. Jakarta: Dian Rakyat.

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1983. “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Manusia dan Kebudayaan Modern” dalam Amran Halim dan Yayah B. Lumintaintang (Eds.). Kongres Bahasa Indonesia III. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1985. “Pembahasan Persepsi tentang Kebudayaan Nasional” dalam Bambang Kaswanti Purwo (Penyunting). PELLBA 5: Bahasa – Budaya. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.

Aminuddin, dkk. 2002. Analisis Wacana, dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan, Universitas Gajah Mada.

Bauman, Richard & Joel Sherzer. 1974 Explorations in The Ethnography of Speaking. Cambridge University Press.

Bawa, I Wayan dan I Wayan Cika, Ed. 2004. Bahasa dalam Perspektif Keudayaan. Universitas Udayana.

Bell, Roger T. 1976. Sociolinguistic: Goal, Approaches and Problem. New York: St. Martin’s Press.

Bertens, KL.1987. “Masalah Bahasa Religius” dalam Panorama Filsafat Modern. Jakarta: PT Gramedia.

Brown, Gillian and George Yule. 1983. Discourse Analysis. Cambridge University Press.

Bungin, Burhan. 2003. Analisis Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filsafat dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Chauchard, Paul. 1983. “Le Langage La Pensee” terjemahan oleh A. Widyamartaya. Bahasa dan Pikiran. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Cook, Guy. 1990. Discourse. Oxford University Press.

Dardjowidjojo, Soenjono. 1985. Perkembangan Linguistik di Indonesia. Jakarta: Arcan.

Dijk, Teun A. 1985. Hand Book of Discourse Analysis, Volume 1, 2, 3, 4. Academic Press.

Dijk, T.A. 1997. Text and Context, Exploration in the Semantics and Pragmatics of Discourse. London: Longman.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1994. Wacana  : Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: PT Eresco.

Duranti, Alessandro. 1977. Linguistic Anthropology. Cambridge University Press.

Duranti, Alessandro. 2001. Linguistic Anthropology, A Reader. Blackwell Publishers.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana . Yogyakarta: LkiS.

Fairclough, Norman. 1995. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London & New York: Longman.

Fishman, Joshua A.. 2000. “Language and Culture” in The Social Sciences Encyclopedia. Terjemahan oleh Haris Munandar, dkk. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Fodorov, Tzvetan. 1983. Symbolism and Interpretation. Translated by Catherine Porter. London: Routledge & Kegan Paul.

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistic An Introduction. USA: Blackwell Publishers Inc.

Foucoul, Michel. 1971. The Discourse of Language Social Science Information.

Frake, Charles O. 1980. Language and Culture Description. Stanford, California: Stanford University Press.

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan & Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Gumperz, John J. and Dell Hymes (Eds.). 1972. Direction in Sociolinguistics The Ethnography of Communication. Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Gunarwan, Asim. 1994. “Pragmatik wacana”, dalam PELLBA 7. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.

Halliday, M.A.K. and Ruqaiya Hasan. 1976. Cohesion in English. London: Longman Group Limited.

Halliday, M.A.K. 1987. Language as Social Semiotic: The Social Interpretation of Language and Meaning. London: Edward Arnold.

Halliday, M.A.K. and Ruqauya Hasan. 1989. Language, Context, and Text: Aspect of  Language in a Social – Semiotic Perspective. Victoria: Deakin University Press.

Hasan, M. Zaini. 1990. “Karakteristik Penelitian Kualitatif” dalam Aminuddin (Ed.). Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Tayasan Asih Asah Asuh.

Herusatoto, Budiono. 2001. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widia.

Hoed, Benny Hoedoro.1994. Linguistik, Semiotik dan Kebudayaan Kita. Pidato Pengukuhan yang Diucapkan pada Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Hoed, Benny Hoedoro. 1994. “Wacana  , Teks, dan Kalimat” dalam Liberty P. Sihombing, dkk., Bahasawan Cendikia. PT. Intermasa.

Hymes, Dell. 1964. Language in Culture and Society, A Reading in Linguistic and Anthropology. New York, Evanston, and London: Harper & Row, Publisher.

Hymes, Dell. 1985. Foundation in Sociolinguistics an Ethnographic Approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1993a. Kajian Tindak Tutur. Surabaya – Indonesia: Usaha Nasional.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1993b. Kapita Selekta Sosiolinguistik. Surabaya – Indonesia. Usaha Nasional.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1994. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya – Indonesia: Usaha Nasional.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1995. Sosiolinguistik: Sajian, Tujuan, Pendekatan, dan Problem. Surabaya – Indonesia: Usaha Nasional.

Kaelan, MS. 2004. Filsafat Analitis Menurut Ludwig  Wittgenstein, Pemikiran tentang Dasar-dasar Verifikasi ilmiah Logika Bahasa, Tata Permainan Bahasa, Teologi Gramatika, Paradigma Pragmatik. Yogyakarta: Paradigma.

Koentjaraningrat. 1985. “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional” dalam Alfian (Ed.). Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Jakarta: PT. Gramedia.

Koentjaraningrat. 1992. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 1980. Fungsi dan Sikap Bahasa. Ende – Flores: Nusa Indah.

Kridalaksana, Harmurti. 1991. Fungsi dan Fungsionalisme dalam Linguistik. Pidato Pengukuhan yang Diucapkan pada Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Lander, Herbert. 1966. Language and Culture. New York: Oxford University Press.

Leech, Geoffrey. 1989. Principle of Pragmatics. London and New York: Longman.

Lemke, J. 1995. “Making Meaning: the Principles of Social Semiotic” in Teresa Ashforth. Language and Power. School of Humaniteis Academic Services Unit.

Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS

Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana   Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Lyon, John. 1995. Introduction to Theoritical Linguistics. Terjemahan oleh I. Soetikno. Jakarta: PT Gramaedia Pustaka Utama.

Masinambow, F.KL.M. 1985. “Perspektif Kebahasaan terhadap Kebudayaan” dalam Alfian (Ed.), Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Jakarta: PT Gramedia.

Mbete, dkk, Aron Meko (Ed.). 1988. Proses & Protes Budaya: Persembahan untuk Ngurah Bagus. Denpasar: PT. Offset BP.

Miller, Robert L. 1968.  The Linguistic Relativeity Principle and Humboldtian Ethnolinguistics. The Haque – Paris: Mouton.

Milles, Mathew B. and A Michael Huberman. 1992. Qualitative Data Analysis. Terjemahan oleh Tjetjep Rahendi Rohidi. Sage Publisher Publications, Inc.

Moleong, Lexy J. 2000. Metodology Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muhadjir, Noeng. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif: Telaah Positivistik, Rasionalistik, dan Phenomenologistik. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Mustansyir, Rizal. 1987. Filsafat Analitik, Sejarah, Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya. Jakarta: Rajawali Press.

Nunan, David. 1993. Itroducing Discourse Analysis. Penguin English.

Oetomo, Dede. 1993. “Pelahiranan perkembangan Analisis Wacana  ”. Dalam PELLBA 6. Jakarta: Lembaga Unika atmajaya.

Ogden, C.KL. and I.A. Richards. 1923. The Meaning of Meaning. London: Kagen Paul.

Permata, Ahmad Norma. 2003. “Hermeneutik Fenomenologi Paul Ricouer”, dalam Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Pustaka, No. 5 Tahun XIV. Denpasar: Yayasan Guna Widya.

Peter, Pericles Trifonas. 2003. Barthes and The Empire of Signs. Terjemahan oleh Swastika, (Ed.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Poespoprojo. 1987. Interpretasi. Bandung: CV. Remadja Karya.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Purwo, Bambang Kaswanti.1992. PELLBA 5: Bahasa – Budaya. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.

Purwo, Bambang Kaswanti, (Ed.). 1993. PELLBA 6: Analisis Wacana   – Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.

Purwo, Bambang Kaswanti, (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: PT BKL Gunung Mulia.

Rani, dkk., 2004. Analisis Wacana, Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Riana, I Ketut. 2003. “Linguistik Budaya: Kedudukan dan Ranah Pengkajiannya”. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Linguistik Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar: Universitas Udayana.

Ricoeur, Paul 1976. Interpretation Theory: Discourse and The Surplus of Meaning. The Texas Christian University Press.

Robin, RH. 1995. A Short History of Linguistics. Terjemahan oleh Asril Marjahan. London: Longman Group UK Limited.

Searle, John R. 1981. Expression and Meaning: Studies in The Theory of Speech Acts. Cambridge University Press.

Sherzer, Joel. 1997. “The ethnography of Speaking: a Critical Aprisal” in Muriel saville – troike, (Eds.), Linguistics and Anthrophology. Washington, D.C.: Georgetown University Press.

Sibarani, Robert. 1992. Hakikat Bahasa. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogya: PT. Tiara Wacana

Spradley, James P. 1997. “The Ethnographic Interview” terjemahan oleh Misbah Zulfa Elisabeth. Metode Etnografi. Yogya: PT. Tiara Wacana  .

Stubbs, Michael. 1983. Discourse Analysis, The Sociolinguistic Analysis of Natural Language. Oxford: Basil Blackwell Publisher Limited.

Subroto, D. Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Sudaryanto. 1990. Aneka Konsep Kedataan Lingual dalam Linguistik. Yogyakarta:    Duta Wacana   University Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Duta Wacana   University Press.

Sudjiman, Panuti dan Aart van Zoest. 1992. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme, Tangtangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Suharno, Jaya. 1996. “Linguistik Kultural: Peranan Manusia dalam Telaah Bahasa” dalam Soenjono Dardjowidjojo (Ed.), Perkembangan Linguistik di Indonesia. Jakarta: Arcan.

Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Sumarsono. 1982. Semantik. Singaraja: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Udayana.

Sutjaja, I Gusti Made. 2005. “Linguistik, Bahasa Bali, dan Dunia Virtual”. Pidato Ilmiah Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Bahasa, Fak. Sastra, Universitas Udayana. Jimbaran: Universitas Udayana.

Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Wacana . Bandung: Angkasa.

Thomson, John B. 1984. Studies in The Theory of The Idiology. Terjemahan oleh Haqqul Yaqin (2003). University of California Press.

Todorov, Tzvetan. 1983. Symbolism and Interpretation. Translated by Catherine Porter. London, Melbourne, and Henley: Routledge & Kegan Paul.

Triguna, Ida Bagus Yudha. 2000. Teori tentang Simbol. Denpasar Timur: Widya Dharma.

Ullman, Stephen. 1977. Semantic: an Introduction to the Science of Meaning. Oxford: Basilo Black-Well.

Verhaar, S.J. John. 1994. “Purnamodern” dalam Liberty P. Sihombing, dkk. (Ed.), Bahasawan  Cendekiawan. PT. Intermasa.

Wijana, I Dewa Putu. 2002. “Wacana   dan Pragmatik” dalam Analisis Wacana oleh Kris Budiman (Penyunting). Yogyakarta: Kanal.

Zoest, Aart van dan Panuti Sudjiman (Eds.). 1992. Serba-serbi Semiotik. Jakarta: PT. Gramedia Utama.

Zoest, Aart Van. 1993. Semiotika tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.      

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama                                 : I Wayan Gara

Jenis Kelamin                    : Laki-laki

Tempat dan Tanggal Lahir: Renon, 30 September 1959

Agama                               : Hindu

Status                                 : Menikah

Alamat                               :

  1. Rumah: Jalan Tukad Balian, Gang XX, Nomor 1 Renon, Denpasar Selatan, Telp. (0361) 247858
  2. Kantaor: Kopertis Wilayah VIII Denpasar yang dipekerjakan pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan “Agama Hindu” Singaraja, Telp. (0362) 21275

Pangkat/Golongan/NIP     : Pembina/IVa/131475037

Jabatan                              : Lektor Kepala

Keluarga                            :

  1. Istri                         : Desak Made Laksmi
  2. Anak-anak              : Putu Astria Suniti

I Made Joni Jatmika

I Nyoman Suta Wijaya

Ni Ketut Cita Rasmi

Riwayat Pendidikan:

1972  Sekolah Dasar Nomor 1 Renon

1975  Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Negeri Denpasar

1979  Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Denpasar

1984 Sarjana Sastra (Drs.), Program Studi Sastra Bali, Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar

1999 Pascasarjana (M.Hum) dalam Program Studi Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar

2006 Program Pendidikan Doktor Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar

Riwayat Pekerjaan:

1985 – Sekarang  Tenaga Pengajar Kopertis Wilayah VIII Denpasar yang Dipekerjakan pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan “Agama Hindu” Singaraja

1985 – 1994       Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan “Agama Hindu” Singaraja

1985 – 1996     Sekretaris Ujian Negara, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan “Agama Hindu” Singaraja

Penelitian dan Publikasi Ilmiah:

1986                     Studi Pendahuluan tentang Tradisi Mendongeng pada Masyarakat Bali

1986/1987        Balikan Mahasiswa Terhadap Kualitas Proses Belajar – Mengajar Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan “Agama Hindu” Singaraja

1988/1989            Berbicara: Sebuah Pengantar Ringkas Keterampilan Berbahasa Bali

1990/1991        Tinjauan tentang Sistem Perkawinan Madep Menurut Hukum Adat dan Agama Hindu pada Masyarakat Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng

1991/1992             Deskripsi Sistem Morfofonemik Bahasa Bali Dialek Nusa Penida

1992/1993             a. Polisemi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida

b. Caru sebagai kurban Suci dalam Upacara Agama Hindu

1993/1994             a. Homonimi Bahasa Bali Dialek Nusa Pendia

b. Tinjauan Sekilas tentang Etika Kapamangkuan dalam Upacara Agama Hindu

1994/1995             a. Leksikon Prakategorial Bahasa bali Dialek Nusa Penida

b. Tirta sebagai Air Suci dalam Upacara Yadnya

1995/1996             a. Proses Morfologis Bahasa Bali Dialek Nusa Penida

b. Deskripsi Singkat tentang Penggunaan Banten Guru Piduka dalam Upacara Yadnya

Pertemuan Ilmiah:

  1. Lokakarya Penjabaran Sistem Evaluasi Hasil Belajar Mahasiswa Universitas Udayana Denpasar, Tanggal 1 Juli 1994
  2. Sarasehan Sastra Daerah, Pesta Kesenian Bali XVII di Denpasar, Tanggal 1 Juli 1995
  3. Seminar Pemikiran Dalang dan Kartunis di Denpasar, Tanggal 2 Oktober 1996
  4. Seminar Pemberdayaan Cendekiawan dalam Berkreativitas, Program Magister (S2) Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar, Tanggal 3 Desember 1996
  5. Seminar Internasional Bahadan Budaya Melayu di Tanah Melayu (Asia Tenggara) di Gedung Arena Budaya UNRAM, Tanggal 20—23 Juli 1997
  6. Seminar Metodologi Penelitian dam Pengajaran Bahasa dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Balai Penelitian Bahasa di Denpasar, Tanggal 26 Juni 1997
  7. Seminar Peranan Bahasa Indonesia dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Balai Penelitian Bahasa di Denpasar, Tanggal 28 Juni 1997
  8. Seminar Berkala Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Tanggal 6 Desember 1997
  9. Seminar Internasional tentang Kebudayaan Nasional Indonesia di Denpasar, Tanggal 16-17 Februari 1998

10.  Seminar Linguistik Kebudayaan di Balai Penataran Guru, Yang Batu Denpasar, Tanggal 9 Mei 1998 (Pemakalah “Model Penelitian Linguistik Budaya”)

11.  Semiloka Yadnya di Denpasar, Tanggal 1 Agustus 1999

12.  Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Lokal Nusantara di Denpasar, Tanggal 28 Oktober 2000 (Pemakalah)

13.  Seminar Politik dan Hukum di Era Reformasi: Perspektif Sistem Politik yang Madani di Denpasar, Tanggal 1 Juli 2004

14.  Simposium Internasional III Bahasa, Sastra, dan Budaya Austronesia di Denpasar, Tanggal 19—21 Agustus 2004 (Pemakalah)